Selasa, 02 Februari 2010

PICIK

ujung mataku menyipit,
memandang sempit pada sosok lugunya
sebatas mata kaki dapat kulihat geraknya
kututup pandanganku dari garis segar bibirnya

Minggu, 11 Mei 2008

TAK PANTAS

Bukan bidadari, pada kesejukan pagi.
Bukan pula yang menangis, di malam sunyi.
Aku hanya yang lemah dalam gundah,
mengkerdil dalam perkasa dunia.
Tak pantas merayu,
tak pantas menunggu.

Sabtu, 10 Mei 2008

WAKTU TERSISA
Aku memalu,
bagai kuncup yang memekar
sementara kegundahan ibarat lautan
dalam perbatasan pulau
Jika saja garis merah dalam senja
menjabat luka,
mungkin ini hari........
aku takan mengkerdilkan diri
Bersembunyi pada tabir-tabir malam
Duhai....Keperkasaan Hidup!
Pada ini aku punya cerita
masih tersisa lembar-lembar tak bertinta
Bila saja Kasih-Mu bermuara,
kutitip asa....
membentang waktu habiskan tinta

Selasa, 06 Mei 2008

TETAP AKU YANG DULU

Aku.....masih aku
hanya tertidur saja
bukan mati untuk reinkarnasi
dalam hidup
aku masih rindu wujud ini
aku....masih aku
tak akan berpaling dari waktu
DALAM LUKA
Bidadari menutup kata
sebingkai cerita meluruh
tetes bening ....
ibarat genangan dalam dahaga
luka.....
bagai serpih serpih kaca
menusuk telapak para pujangga

Selasa, 22 April 2008

KEMBALI MENCINTA

Aku mulai berhasrat
cinta itu kembali menggeliat
pada tubuh ia mencuri daya
aku terkulai tanpa makna

Sudut taman kota,
yang padanya kusimpan cerita
tentang cinta menata asa
tentang rasa tak terjaga antara kita,
tertawa menjadi saksi kekalahan
sesumbar penuh cerca

Aku diam, nanar
menatap dari sudut ke sudut
kuncup malu itu memekar
pada pintu kesungguhan
yang mematah kunci
Tapi geliat cintaku bagai padang gersang
memutar memori dalam kenang
sketsa aku dan kamu
bagai putaran film layar kaca
menembus batas ruang dan waktu
mencipta gempa dalam aku punya jiwa


Jumat, 22 Februari 2008

Panggil Rindu Gadis Lugu

Sebait senyum terukir dari sebuah kemanjaan

lalu, pesona lugumu luluhkan sebuah ego

bahwa aku tiada terkalahkan

dan nyata berkata

cinta serta nafsu rajai setiap jiwa

maka ketika aku tersadar

lembah-lembah telah mewarna

hitam pekat memandikan aku

sedang engkau, gadis lugu

bermain api ditepian berbatu

seraya memanggil penuh rindu

hangatkan segala kedinginanku